Tragedi 1998
ini menceritakan sebuah pertempuran yang sangat berkepanjangan banyak mahasiswa
yang jatuh karana tragedi ini. Mulanya tragedi ini hanya sekedar demo mahasiswa
di dalam lingkungan kampus saja tetapi ketidaksabaran mereka atas tuntutannya
yang tidak direspon, sehingga mereka
dengan nekat keluar dijalan jalan dan menuju ke gedung DPR yang sangat berdekatan dengan kampus mereka.
Ketidaksabaran mereka lama-kelamaan menjadi berapi-api, mahasiswa dengan nekat
masuk kelingkungangan DPR dsn berperilaku tidak sepantasnya sehingga aparat
hukum atau polisi dengan nekat menembaknya. banyak korban yang terluka dalam
kerusuan ini bahkan ada meninggal yang bernama Elang Surya Lesmana, Hafidhin
Royan, Hendriawan Sie, dan Hery Hertanto.meraka adalah mahasiswa trisakti dan
mereka berempat diberi gelar pahlawan reformasi.Kesedihan keluarga mereka
sangat berlarut-larut sampai sekarang karena tidak ditemukan ujung
permasalahnnya.Sedih ketika melihat atau mendengar ada tregedi yang seperti ini
yang tidak ditemukan jalan keluarnya, kenapa keadilan dinegara ini sangat-sangatlah
lemah. Apa susahnya menghusut masalah ini kerana kehukum, dimana pemeritahan
dimana keadilan negara ini. Negara ini seperti boneka yang bisu yang hanya
terdiam tampa tindakan.
Tragedi 1998 juga membawa duka yang sangat
mendalam, banyak para mahasiswa yang menjadi korban, flem ini ditayang karna
mengulas kembali masa-masa dulu betapa sadisnya perlawanan yang dilakukan oleh
para penegak hukum dinegara kita, mereka bangga atas kemenangan yang dilakukan
padahal yang dilakukan mereka tidak berkemanusiaan, flem ini juga ditanyangkan untuk menyadarkan generasi penerus agar tidak
bertidak gegabah dalam melakukan sesuatu, gunakan otak kita untuk berpikir
kedepan agar tidak menibulkan masalah
yang berkepanjangan.Bahkan Banyak diantara kita yang
meragukan untuk mengungkit dan menggali ingatan masa lalu. Tak produktif,
menyakitkan, lebih baik menatap masa depan, begitu mereka berkata. Tentu saja
itu ada benarnya. Terutama bila itu terkait dengan memori buruk, trauma, rasa
sakit, yang pernah kita alami. Namun sebagian lagi menyatakan bahwa berupaya
melupakan pun hanyalah kepura-puraan, toh kita tak mungkin juga melupakan.
Bagaimana kita dapat menata dan menatap masa depan dengan jernih, bila kita berpijak pada masa lalu yang kita represi dengan rapuh?
(Pura-pura) melupakan hanyalah tanda bahwa kita tak pernah belajar dari masa
lalu.
Seandainya saya hidup sebagai
mahasiswa pada zaman itu saya tidak pernah dan tidak mau mengkuti demo yang
semacam itu, karna saya masih mempunyai pola pikir yang lebih maju. semua
masalah dapat diselesaikan secara baik-baik tidak hanya diselsaikan secara
kekerasan apalagi dapat mengakibatkan banyak korban berjatuhan.Jika saya
sebagai polisi pada zaman itu saya tidak mau menyelesaikan masalah dengan cara
kekerasan karana cara yang baiki-baik
masih banyak, saya akan menciptakan
suasana yang damai dan tentram karna saya adalah aparat hukum.Jika
saya sebagai orang yang duduk di pemerintahan pada zaman itu saya akan bersikap
adil dan siaga terhadap rakyat sedang mebutuhkan saya.Jika saya sebagai guru
sejarah pada jaman itu saya akan mengenah dan menceritakan kembali kepada
mahasiswa atau murid-murid saya tentang tragedi 1998 bahwa ada mahasiswa yang
menjadi pahlawan reformasi kita dalam memperjuangkan hak-haknya yang ingin di
capai.
flem ini menarik ditonton ketika Mengingat
dan memperingati adalah cara penting untuk tidak mengulangi masa lalu. Bangsa
Jerman belajar menatap masa depan dengan mendirikan museum pembantaian terhadap
orang Yahudi oleh Nazi. Bukannya (pura-pura) melupakan Auschwitz. Sayang bangsa
kita masih harus belajar utk memahami masa lalu, walau itu memang tidak pernah
menyenangkan, agar dapat melangkah ke masa depan dengan teguh. Mari kita
memperingati masa lalu untuk menjahit luka. :D
Tidak ada komentar:
Posting Komentar