Jumat, 16 Oktober 2015

Tragedi 1998 ini menceritakan sebuah pertempuran yang sangat berkepanjangan banyak mahasiswa yang jatuh karana tragedi ini. Mulanya tragedi ini hanya sekedar demo mahasiswa di dalam lingkungan kampus saja tetapi ketidaksabaran mereka atas tuntutannya yang  tidak direspon, sehingga mereka dengan nekat keluar dijalan jalan dan menuju ke gedung DPR yang  sangat berdekatan dengan kampus mereka. Ketidaksabaran mereka lama-kelamaan menjadi berapi-api, mahasiswa dengan nekat masuk kelingkungangan DPR dsn berperilaku tidak sepantasnya sehingga aparat hukum atau polisi dengan nekat menembaknya. banyak korban yang terluka dalam kerusuan ini bahkan ada meninggal yang bernama Elang Surya Lesmana, Hafidhin Royan, Hendriawan Sie, dan Hery Hertanto.meraka adalah mahasiswa trisakti dan mereka berempat diberi gelar pahlawan reformasi.Kesedihan keluarga mereka sangat berlarut-larut sampai sekarang karena tidak ditemukan ujung permasalahnnya.Sedih ketika melihat atau mendengar ada tregedi yang seperti ini yang tidak ditemukan jalan keluarnya, kenapa keadilan dinegara ini sangat-sangatlah lemah. Apa susahnya menghusut masalah ini kerana kehukum, dimana pemeritahan dimana keadilan negara ini. Negara ini seperti boneka yang bisu yang hanya terdiam tampa tindakan.
 Tragedi 1998 juga membawa duka yang sangat mendalam, banyak para mahasiswa yang menjadi korban, flem ini ditayang karna mengulas kembali masa-masa dulu betapa sadisnya perlawanan yang dilakukan oleh para penegak hukum dinegara kita, mereka bangga atas kemenangan yang dilakukan padahal yang dilakukan mereka tidak berkemanusiaan, flem ini juga ditanyangkan  untuk menyadarkan generasi penerus agar tidak bertidak gegabah dalam melakukan sesuatu, gunakan otak kita untuk berpikir kedepan agar tidak menibulkan masalah  yang berkepanjangan.Bahkan Banyak diantara kita yang meragukan untuk mengungkit dan menggali ingatan masa lalu. Tak produktif, menyakitkan, lebih baik menatap masa depan, begitu mereka berkata. Tentu saja itu ada benarnya. Terutama bila itu terkait dengan memori buruk, trauma, rasa sakit, yang pernah kita alami. Namun sebagian lagi menyatakan bahwa berupaya melupakan pun hanyalah kepura-puraan, toh kita tak mungkin juga melupakan. Bagaimana kita dapat menata dan menatap masa depan dengan jernih, bila kita berpijak pada masa lalu yang kita represi dengan rapuh? (Pura-pura) melupakan hanyalah tanda bahwa kita tak pernah belajar dari masa lalu.
Seandainya saya hidup sebagai mahasiswa pada zaman itu saya tidak pernah dan tidak mau mengkuti demo yang semacam itu, karna saya masih mempunyai pola pikir yang lebih maju. semua masalah dapat diselesaikan secara baik-baik tidak hanya diselsaikan secara kekerasan apalagi dapat mengakibatkan banyak korban berjatuhan.Jika saya sebagai polisi pada zaman itu saya tidak mau menyelesaikan masalah dengan cara kekerasan karana cara yang  baiki-baik masih banyak, saya akan menciptakan  suasana yang damai dan tentram karna saya adalah aparat hukum.Jika saya sebagai orang yang duduk di pemerintahan pada zaman itu saya akan bersikap adil dan siaga terhadap rakyat sedang mebutuhkan saya.Jika saya sebagai guru sejarah pada jaman itu saya akan mengenah dan menceritakan kembali kepada mahasiswa atau murid-murid saya tentang tragedi 1998 bahwa ada mahasiswa yang menjadi pahlawan reformasi kita dalam memperjuangkan hak-haknya yang ingin di capai.
flem ini menarik ditonton ketika Mengingat dan memperingati adalah cara penting untuk tidak mengulangi masa lalu. Bangsa Jerman belajar menatap masa depan dengan mendirikan museum pembantaian terhadap orang Yahudi oleh Nazi. Bukannya (pura-pura) melupakan Auschwitz. Sayang bangsa kita masih harus belajar utk memahami masa lalu, walau itu memang tidak pernah menyenangkan, agar dapat melangkah ke masa depan dengan teguh. Mari kita memperingati masa lalu untuk menjahit luka. :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar