JEPANG MUNCUL SEBAGAI NEGARA IMPERIALIS
Disusun
oleh :
Nama : Wulan Kartika Sari (2014131051))
Kelas : 3B
Prodi
: Pendidikan
sejarah
Mata
kuliah : Sejarah Asia Timur
Dosen
pembimbing : Kabib sholeh, S.Pd.,M.Hum
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PGRI PALEMBANG
2014-2015
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Restorasi meiji telah berhasil mengangkat harkat dan martabat bangsa dan
negara Jepang. Jepang menjadi negara maju, modern, dan sejajar dengan
negara-negara Barat. Ambisi imperialisme Jepang menyebabkan Jepang terlibat dalampeperangan. Untungnya,dalam setiap peperangan jepang selalu mendapat kemenangan. Perang Cina–Jepang I (1894–1895) dimenangkan oleh Jepang dan diakhiri dengan Perjanjian Shimonoseki (1895). Hasilnya,Jepang memperoleh Kepulauan Pescadores dan Taiwan.
negara Jepang. Jepang menjadi negara maju, modern, dan sejajar dengan
negara-negara Barat. Ambisi imperialisme Jepang menyebabkan Jepang terlibat dalampeperangan. Untungnya,dalam setiap peperangan jepang selalu mendapat kemenangan. Perang Cina–Jepang I (1894–1895) dimenangkan oleh Jepang dan diakhiri dengan Perjanjian Shimonoseki (1895). Hasilnya,Jepang memperoleh Kepulauan Pescadores dan Taiwan.
Perang Rusia–Jepang(1904–1905)
dimenangkan oleh pihak Jepang dan diakhiri dengan Perjanjian Portsmouth (1905) .
Hasilnya Jepang mendapatkan Shakalin Selatan dan menggantikan posisi Rusia di
Manchuria. Kemenangan Jepang ini memberikan pengaruh yang besar bagi tumbuhnya
nasionalisme di negara-negara Asia dan Afrika. Hal ini menarik untuk kita kaji
bersama, karena proses imperialisme jepang menjadi awal dari bangkitnya
nasionalisme negara-negara di asia, sehingga hal tersebut menjadi cukup menarik
untuk kita bahas.
1.2 Rumusan masalah
1.2.1 Faktor
apa saja yang mendorong Negara Jepang menjadi negara
Imperialis?
1.2.2 Bagaiamankah
perang Cina melawan Jepang ?
1.2.3 Bagaimanakah perang Rusia melawan Jepang
?
1.2.4 Bagaimanakah
Jepang dalam perang dunia 1 ?
1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahui faktor
yang mendorong Negara Jepang menjadi
Negara imperialis !
1.3.2 Untuk
mengetahui perang Cina melawan Jepang !
1.3.3 Untuk mengetahui perang Rusia melawan Jepang
1.3.4 Untuk mengetahui Jepang
dalam perang dunia 1!
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Faktor pendorong Jepang menjadi Negara
imperialis
Munculnya Jepang menjadi negara imperialisme pada awalnya di latar
belakangi dari proses restorasi yang terjadi di jepang, hal itu kemudian
menbawa kemajuan yang cukup pesat bagi jepang dalam berbagai sektor. jepang
berhasil menjadi negara maju, modern dan sejajar dengan negara-negara baratnya
lainnya, hal tersebut kemudian menimbulkan keinginan dan ambisi untuk melakukan
imperialisme terhadap negara-negara lain, hal tersebut di latarbelakangi oleh
hal-hal berikut
2.1.1
Pertumbuhan Penduduk
Kepulauan Jepang yang terletak di lepas pantai timur benua Asia membentang
seperti busur ramping sepanjang 3.800 km dengan luas total 377.815 km persegi,
sedikit lebih luas dari Inggris, hanya sepersembilan dari luas Amerika Serikat.
Sebelum Restorasi Meiji (1868) Jepang sepenuhnya menggantungkan hidupnya dari
hasil pertanian. Akan tetapi sejak modernisasi yang dijalankan oleh Kaisar
Meiji, Jepang mulai mengembangkan insustri dalam negeri. Memasuki abad ke-20,
Jepang telah tumbuh menjadi negara modern dan negara industri pertama di Asia. Perkembangan
yang mengagumkan itu sebaliknya membawa dampak yang tidak diinginkan sama
sekali. Kemajuan-kemajuan tersebut diiringi pula dengan pertambahan jumlah
penduduk yang pesat. Tentang perkembangan cacah jiwa penduduk di Jepang itu tercatat
sebagai berikut:
Tahun 1828 = 26,5 juta
Tahun 1872 = 34,8 juta
Tahun 1920 = 55,4 uta
Tahun 1935 = 69,2 juta.
Data di atas bermakna bahwa negara kepulauan yang miskin akan sumber alam
tersebut kini menanggung jumlah penduduk yang sangat besar dalam luas yang
relatif sempit. Kenyataan ini menjadi masalah yang meresahkan pemerintah
Jepang. Karena dengan berlipatgandanya jumlah penduduk, menyebabkan Jepang
menjadi negara minus. Sebagai jalan keluarnya, Jepang pada awalnya menempuh
kebijakan dengan jalan emigrasi. Namun setelah negara-negara menutup pintu
imigrasinya bagi bangsa Jepang menyebabkan Jepang menjadi kalap dan haus tanah.
Didukung oleh persenjataan militer yang kuat dan modern, Jepang mulai melakukan
petualangan-petualangan milter yang merisaukan dunia. Masalah kepadatan
penduduk inilah yang menjadi awal kesulitan Jepang dan menjadi faktor yang
cukup penting dalam kerangka imperialisme Jepang di Asia.
2.1.2 Retriksi
(Pembatasan) Imigrasi Bangsa Jepang
Sejarah emigrasi bangsa Jepang dimulai pada tahun 1868 dengan keberangkatan
kapal yang memuat para pemukim Jepang yang pertama ke Hawaii. Pada tahun-tahun
selanjutnya, Amerika Serikat dan Amerika Latin menjadi tujuan yang disukai oleh
para emigran bangsa Jepang. Dalam waktu 70 tahun sebelum Perang Dunia II, jumlah orang Jepang yang beremigrasi
adalah sekitar 700.000. Emigrasi bangsa Jepang ini kemudian terhenti setelah
memuncaknya ketegangan antara Jepang dengan negara-negara Barat, dimana
negara-negara di dunia menutup pintu untuk imigrasi dari Jepang, walaupun
umpamanya wilayah Afrika maupun wilayah Amerika Selatan masing kosong dan
luas.Untuk mengerahkan kelebihan penduduknya ke Asia atau Australia juga tidak
memungkinkan karena negara-negara di Asia sudah dikuasai oleh imperialisme
Barat yang nota-bene adalah musuh Jepang.
Sementara itu Australia sudah lama menutup pintu imigrasinya bangsa bangsa
non kulit putih, seperti yang dicatat oleh J.S. Siboro, bahwa: Dalam tahun
1880-1881 dan tahun 1888 diadakan konferensi antar koloni, dimana diputuskan
bahwa semua koloni mengetatkan undang-undang imigrasinya. Antara tahun 1891 dan
1901, kebijaksanaan- kebijaksanaan untuk mempertahankan White Australia
dikembangkan. Tujuannya adalah mencegah masuknya semua orang berkulit berwarna
putih Sesudah federasi terbentuk, kebijaksanaan ini dinyatakan juga dalam
undang-undang tahun 1901 dan terkenal dengan nama Imigration Retriction Act.
Maksudnya adalah mencegah masuknya imigran non kulit putih. Sebenarnya
pembatasan imigrasi bangsa Jepang itu dilatarbelakangi oleh ketakutan bangsa
Barat akan superioritas Jepang membahayakan kedudukan mereka di Asia. Hal ini
bermula ketika Jepang berhasil mengalahkan Rusia dalam perang tahun 1905 dan
muncul sebagai “bahaya kuning” di Asia Pasifik.Di Amerika, gejala kekhawatiran
ini nampak lebih nyata. Para pelajar Amerika menunjukkan sikap anti terhadap
para pelajar Jepang. Presiden Roosevelt yang menyadari hal ini segera mengambil
langkah pembatasan terhadap arus imigrasi Jepang. Pada tahun 1924 Amerika
menutup pintu imigrasinya serapat-rapatnya bagi Jepang, namun bangsa kulit
putih boleh masuk meskipun dibatasi. Diskriminasi ini melukai hati orang Jepang
dan dinilai sebagai paksaan untuk melakukan ekspansi keluar negeri.
2.1.3 Perkembangan Industri Jepang
Proses modernisasi di Jepang sesungguhnya dimulai sejak pembukaan Jepang
oleh Commodore Perry yang memaksa Jepang membuka beberapa pelabuhannya dan
memberi konsesi pada negara-negara Barat. Setelah pembukaan Jepang dan
berakhirnya politik “isolasi” pemerintah Bakufu yang berlangsung selama 200
tahun lebih (1639-1864), bangsa Jepang mulai menyadari ketinggalan-ketinggalan
yang mereka alami. Perkembangan yang dicapai selama negara tertutup, ternyata
tidak dapat mengimbangi kemajuan yang dicapai negara-negara Barat. Timbul
kesadaran bahwa Jepang harus secepat mungkin mengadakan perubahan dan
menyesuaikan diri pada perkembangan baru yang terjadi di negara-negara Barat
kalau tidak ingin dijajah seperti bangsa-bangsa lainnya di Asia pada masa itu.
Perubahan dan penyesuaian diri tersebut dikenal dengan Restorasi Meiji.
Restorasi Meiji dalam arti sempit dapat diartikan sebagai pemulihan kembali
Kaisar Meiji setelah penggulingan pemerintahan Tokugawa pada tanggal 3 Januari
1868 oleh kekuatan-kekuatan yang dipelopori oleh daerah-daerah Satsuma
(sekarang propinsi Kagoshima), dan Coshu (sekarang propinsi Yamaguchi).
Peristiwa tersebut telah membuka ke arah pembaharuan-pembaharuan dalam bidang
politik, ekonomi, pendidikan, angkatan perang, dan lain-lain, serta meletakkan
sendi-sendi bagi suatu Jepang modern. Ada beberapa faktor yang memungkinkan
tercapainya modernisasi secara cepat. Pertama, dasar-dasar untuk mencapai
modernisasi sebenarnya sudah ditanamkan sejak jaman Tokugawa yang berlangsung
kira-kira dua setengah abad lamanya. Karena selama itu rakyat Jepang telah
ditempah dalam persatuan dan kebiasaan patuh kepada pimpinan dengan kerelaan
mengorbankan diri.
Kepatuhan tersebut kemudian menjelma menjadi bentuk cita-cita nasional
dengan kesetiaan kepada Tenno dan cinta tanah air. Semangat ini menjadi salah
satu faktor yang mendorong tercapainya pembentukan masyarakat modern. Kedua,
bangsa ini dari pembawaannya adalah bangsa yang ingin sekali belajar dari yang
lain, berhasrat besar menerima pengetahuan itu dan melakukan perbaikan atasnya.
Mottonya; “cari dan temukan praktek terbaik di seluruh dunia dan lakukan
perbaikan atasnya.” Hal inilah yang menyebabkan Jepang mengalami
“loncatan-loncatan” besar kemajuannya, seperti yang dicatat oleh Richard Deacon
bahwa Jepang sesungguhnya telah beralih dari abad ke-17 ke abad ke-20 hanya
dalam waktu 50-60 tahun.
Pada tahun-tahun 1840-an kehidupan di Jepang kira-kira seperti kehidupan di
Inggris dalam tahun-tahuan 1640-an. Menjelang tahun 1910, Jepang telah
berperadaban tinggi dan modern.Ungkapan senada juga dikemukakan oleh Jacob
Buckhard yang dikutip oleh Kenneth B. Pyle:Tiba-tiba saja proses sejarah telah
dipercepat secara mengerikan. Sebaliknya perkembangan yang biasanya memakan
waktu berabad-abad lamanya melompat cepat seperti makhluk halus (phantoms) dalam
hitungan bulanan atau mingguan saja dan selesailah prosesnya.Masa Showa yang
dimulai dengan naiknya Hirohito menjadi kaisar tahun 1926 menggantikan Kaisar
Taisho (1912-1925), memberikan suasana yang penuh harapan. Perindustrian di
negara ini terus berkembang yang ditandai dengan munculnya kota-kota industri
baru.
Perkembangan ini ditopang oleh kemajuan perdagangan luar negeri yang
semakin meluas dari tahun ke tahun.Sehubungan dengan perkembangan industri
dalam negeri, Jepang akhirnya mengalami kesulitan dalam hal penyediaan sumber
bahan mentah berupa minyak, besi, batu bara, dan sebagainya dalam jumlah yang
cukup besar. Hal ini dikarenakan Jepang tidak memiliki sumber bahan mentah
dalam negeri yang cukup untuk mensuplai kebutuhan industri-industrinya.Sementara
itu kesulitan ekonomi yang melanda dunia pada jaman Malaise sekitar tahun
tigapuluhan mendorong negara-negara di dunia memberlakukan tarif proteksi atas
barang impor. Akibatnya Jepang kehilangan pasaran produksi
industrinya.Kesulitan akan sumber bahan mentah dan daerah pasaran produksi
menimbulkan imperialisme modern Jepang. Sebagai implikasinya, perhatian Jepang
diarahkan untuk sumber bahan baku industri dan daerah pasaran hasil
produksinya, yakni ke Manchuria, Tiongkok, demikian pula wilayah Asia Tenggara
dan India.
2.1.4 Harga
Diri Sebagai Negara Besar
Perang Rusia-Jepang (1904-1905) berakhir dengan kemenangan Jepang. Ketika
Jepang berhasil mengusir tentara Rusia di Manchuria dan menghancurkan armada
Baltik Rusia di Laut Jepang. Dalam konferensi perdamaian yang diselenggarakan
di Portsmouth, Amerika Serikat tahun 1905, Rusia mengakui hak-hak dan
kepentingan Jepang di Korea, dan hak Jepang menyewa wilayah sewaan Kwantung,
menyerahkan jalan kereta api Manchuria sebelah selatan Changchun dan tambang-tambang
batu bara yang berdekatan, serta menyetujui penyerahan daerah Sakhalin yang
terletak di bagian selatan garis melintang 5 derajat Utara kepada Jepang.
Kemenangan itu telah memperkuat kepercayaan Jepang bahwa mereka mampu
mengalahkan salah satu bangsa Eropa. Kemenangan itu juga menggugah bangsa Asia,
bahwa tidak benar bangsa Eropa tidak dapat dikalahkan oleh bangsa kullit Asia. Kebangkitan
nasionalisme terjadi di mana-mana, termasuk di Indonesia. Secara politis,
peristiwa ini mengakibatkan naiknya keharuman nama Jepang di Timur Jauh dan
Jepang muncul sebagai negara Asia terkuat dan disegani oleh negara-negara
Barat.Jepang yang merasa dirinya sejajar dengan negara-negara Barat, dalam
Konferensi Perdamaian (18 Januari 1919) menuntut diumumkannya statement tentang
persamaan derajat bangsa-bangsa (racial equality).
Namun usul tersebut ditolak. Bahkan dalam persetujuan kekuatan angkatan
laut antara Amerika Serikat, Inggris, dan Jepang yang ditandatangani setelah
Perang Dunia I, Jepang tidak diperblehkan membangun angkatan laut sebesar AS
dan Inggris, dan harus tunduk pada perbandingan 5:5:3. Penetapan ini
menunjukkan arogansi Barat yang tidak menghendaki Jepang tergolong atau sama
seperti mereka.Ketika itu Jepang yang telah menjadi negara kuat dan modern,
ingin pula mengikuti jejak negara-negara besar yang pada saat itu dimabuk
imperialisme. Namun dalam kenyataannya negara-negara di Asia dan Afrika sudah
dibagi-bagi oleh kolonial Barat. Jepang yang tidak mendapat bagian merasa tidak
adil. Mereka menyadari bahwa untuk mendapatkan wilayah jajahan, satu-satunya
jalan hanyalah dengan menyerobot dan menyingkirkan kuasa-kuasa Barat yang sudah
lama bercokol di Asia-Afrika, dan ini berarti Jepang harus mempergunakan
kekuatan militernya.
2.1.5 Ajaran Shinto tentang Hakko-Ichi-U
Shinto adalah agama asli Jepang yang berakar pada kepercayaan animis Jepang
kuno. Kata Shinto berasal dari bahasa Tinghoa, “Shen” artinya roh, “Tao”
berarti jalannya dunia, bumi, dan langit. Dengan demikian Shinto berarti
perjalanan roh yang baik.Menurut kepercayaan orang Jepang, Dewa Matahari
(Amaterasu Omikami) merupakan dewa yang tertinggi kedudukannya. Dan oleh karena
kaisar dianggap sebagai keturunan serta wakilnya di bumi, maka mereka pun
melakukan pemujaan terhadap kaisar. Melalui agama Shinto terjadilah pemujaan
terhadap kekuasaan negara dengan Tenno sebagai lambangnya.
Sejak Restorasi Meiji (1868), agama Shinto dijadikan agama negara dan
mendapat kedudukan istimewa dalam pemerintahan. Pejabat-pejabat Shinto
ditempatkan pada kedudukan penting dalam kabinet, dan doktrin-doktrin yang
didasarkan pada Shinto dipropagandakan oleh pemerintah.Menurut Hasbulla Bakri
bahwa agama Shinto ini memang mempunyai kelebihan, yakni dapat menarik hati golongan
atas karena kekolotan mereka, dan dapat menarik hati golongan bawah karena
takhyul mereka. Itulah sebabnya agama Shinto sering digunakan sebagai alat
poltik.Menurut Shinto, Hakko-ichi-u itu diperintahkan oleh Jimmu Tenno (Tenno
pertama ± 660 SM) sebagai dewa kepada bangsa Jepang untuk membentuk
kekeluargaan yang meliputi seluruh dunia. Hakko-ichi-u dianggap sebagai titah
dewa yang harus dilaksanakan.
Selanjutnya Hakko-ichi-u diterangkan
bahwa bangsa Jepang merupakan keluarga yang sah, sedangkan bangsa-bangsa lain
tidak, karena itu Jepang boleh memperlakukannya dengan sewenang-wenang. Sebagai
keluarga yang sah, Jepang berhak atas seluruh dunia agar dunia dapat disusun
sebagai satu kekeluargaan.Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Hakko-ichi-u
(dunia sebagai satu keluarga) adalah ajaran Shinto yang mengatakan bahwa
Jepang harus menyusun dunia ini sebagai satu “keluarga besar”, dan Jepang
bertindak sebagai “kepala keluarga”. Ajaran Hakko-ichi-u ini tentunya tak dapat
terlaksana tanpa kemajuan yang telah dicapai oleh Jepang, terutama dalam bidang
perdagangan dan industri. Ajaran tersebut telah ada sejak tahun 660 SM yang
merupakan perintah dari Tenno, namun pada kenyataannya nanti pada abad ke-19
Jepang menjadi negara imperialis. Hal ini menunjukkan bahwa kemajuan yang
dicapai setelah Restorasi Meiji merupakan faktor utama yang menyebabkan Jepang
menjadi negara imperialis.
2.2 Perang Cina-Jepang 1
Setelah Restorasi Meiji, Jepang
maju pesat dengan bantuan teknologi militer barat. Kekaisaran itu memaksa
Joseon menandatangani Perjanjian Ganghwa pada tahun 1876. Jepang kembali
menancapkan kukunya ke tanah Korea demi mencari sumber daya alam dan bahan
pangan dengan membangun kekuatan ekonomi di semenanjung, suatu tanda dimulainya
ekspansi ke Asia Timur. Perang Cina-Jepang Pertama (1 Agustus 1894–17 April 1895) adalah sebuah perang antara Dinasti Qing China dan Meiji Jepang dalam perebutan kendali atas Korea.Sebab-sebabnya antara lain adalah:
sudah sejak lama Korea bergantung pada Cina, tetapi kemudian pengaruh Jepang
terhadap Korea makin bertambah.
Didalam negeri Korea terdapat dua golongan yang bertentangan; yaitu
golongan Progresif yang menghendaki diadakannya modernisasi, golongan ini
didukung oleh Jepang; dan golongan Konservatif yang berpihak pada Cina yang
ingin mempertahankan kebiasaan tradisional. Tahun 1882, golongan konservatif
mengadakan pemberontakan, yang disebut sebagai peristiwa Jingo atau peristiwa
Seoul. Tahun 1884 golongan progresif mengadakan kudeta yang dibantu oleh
Jepang, namun gerakan ini gagal. Kemudian diadakan perjanjian Tienshin, yang
isinya, baik Cina maupun Jepang harus menarik tentaranya dari Korea Tahun 1894,
Di Korea terjadi pemberontakan para petani menuntut perubahan di Korea.
Pemerintah Korea meminta bantuan Cina, golongan progresif meminta bantuan
Jepang,Sebuah pasukan dikirim dan mendarat di Korea.
Sukses segera diperolehnya, tidak saja ketika melawan pasukan Korea, tetapi
juga ketika berhadapan dengan pasukan Cina. Dalam waktu kurang dari setahun
Korea diduduki, dan Cina meminta damai.Peperangan ini berakhir dengan kekalahan
Dinasti Qing dan penandatanganan Perjanjian Shimonoseki pada tahun
1895 yang berakibat pada ganti rugi 30 miliar tael kepada Jepang. Pengaruh
selanjutnya dari perang ini adalah pergantian dominansi regional Asia dari
China kepada Jepang dan merupakan pukulan telak untuk Dinasti Qing dan tradisi
China kuno.
Isi
perjanjian Shimonoseki adalah sebagai berikut :
·
Dinasti Qing mengakui kemerdekaan dan otonomi Dinasti
Joseon secara penuh dan tanpa syarat. Sebagai akibat kemerdekaan dan otonomi,
pembayaran upeti, barang persembahan, dan formalitas ke Dinasti Qing dihapus
untuk selamanya.
·
Dinasti Qing menyerahkan hak atas wilayah berikut,
termasuk semua benteng pertahanan, gudang senjata, dan aset pemerintah yang
terkait kepada Jepang.
·
Dinasti Qing membayar pampasan perang ke Jepang
sebanyak 200 juta kùpíng tail emas (sekitar 300 juta yen).
·
Dinasti Qing harus membuka kota Shashi, Chongqing, Suzhou, dan Hangzhou untuk
perdagangan, tempat tinggal, industri dan manufaktur Jepang
Akibat perang Cina-Jepang, tahap pertama revolusi industry yang berpusat
pada industry ringan tercapai.(Taro Sakamoto :52). Industry jepang khususnya
industry tekstil yang sudah berhasil dikembangkan, memperoleh daerah
pasaran.(Sayidiman Suryohadiprojo :32).
2.3 Perang
Rusia-Jepang
Perjanjian Shimonoseki (17 April 1895). Dengan perjanjian itu Tiongkok
melepaskan klaimnya atas Korea, dan menyerahkan Taiwan dan Lüshunkou (sering
disebut Port Arthur). Namun, tiga kekuatan Barat (Rusia,Kekaisaran Jerman dan Republik
III Prancis ) melalui Intervensi Tiga Negara pada 23 April 1895 menekan Jepang
untuk menyerahkan Port Arthur, dan belakangan Rusia (tahun 1898) merundingkan
penyewaan pangkalan Angkatan Laut selama 25 tahun dengan Tiongkok.Sementara
itu, pasukan-pasukan Rusia menduduki sebagian besar wilayah Manchuria dan Rusia
maupun Jepang berusaha mengambil alih Korea.Setelah gagal mendapatkan
perjanjian yang menguntungkan dengan Rusia, Jepang mengirimkan sebuah ultimatum
pada 31 Desember 1903, memutuskan hubungan diplomatik pada 6 Februari, dan
mulai menyerang dua hari kemudian.Kedua pihak mengeluarkan pernyataan perang
pada 10 Februari. Di bawah hukum internasional, serangan Jepang tidak dapat
dianggap sebagai serangan tersembunyi, karena ultimatum telah dikeluarkan.
Perang tahun 1904 di Port Arthur, di Jazirah Liaodong di selatan Manchuria,
telah diperkuat Rusia hingga menjadi sebuah pangkalan Angkatan Laut besar.Jepang
membutuhkan kekuasaan laut untuk berperang di daratan Asia, karena itu tujuan
militer pertama mereka adalah menetralkan armada Rusia di Port Arthur. Pada 8
Februari malam, armada Jepang di bawah pimpinan Admiral Heihachiro Togo memulai
peperangan dengan sebuah serangan torpedo mendadak pada kapal-kapal Rusia di
Port Arthur, sehingga membuat dua kapal perang Rusia rusak parah.
Serangan-serangan itu berkembang menjadi Pertempuran Port Arthur esok paginya.
Serangkaian pertempuran laut yang tidak memberikan hasil yang menentukan pun
terjadi.
Pada kesempatan itu, Jepang tidak berhasil menyerang Rusia dengan
menggunakan meriam-meriam darat dari pelabuhan, dan armada Rusia menolak untuk
meninggalkan pelabuhan itu dan pergi ke laut terbuka, khususnya setelah
kematian Admiral Stepan Osipovich Makarov2 pada 13 April.
Pertempuran-pertempuran ini memberikan perlindungan bagi sebuah pasukan Jepang
untuk mendarat dekat Incheon di Korea, dan dari sana mereka menduduki Seoul dan
berikutnya seluruh Korea.Pada akhir April, tentara Jepang di bawah Kuroki Itei
bersiap-siap menyeberangi sungai Yalu ke Manchuria yang saat itu diduduki
Rusia. Sebagai jawaban terhadap strategi Jepang yang memberikan kemenangan
cepat untuk menguasai Manchuria, Rusia melakukan tindakan-tindakan penghalang
untuk memperoleh cukup waktu untuk menunggu tibanya pasukan-pasukan tambahan
yang datang melalui jalan kereta api Trans-Siberia yang panjang.Pada 1 Mei,
pecahlah Pertempuran Sungai Yalu.
Dalam pertempuran ini pasukan-
pasukan Jepang menyerang sebuah posisi Rusia setelah mereka menyeberangi sungai
itu tanpa menghadapi perlawanan. Ini adalah sebuah pertempuran besar pertama
dari perang ini di daratan. Pasukan-pasukan Jepang bergerak maju dan mendarat
di beberapa titik di pantai Manchuria, serta melakukan sejumlah pertempuran
hingga memukul balik pasukan-pasukan Rusia ke Port Arthur. Pertempuran-pertempuran
ini, termasuk Pertempuran Nanshan pada 25 Mei, ditandai oleh kekalahan besar
Jepang dalam penyerangan kepada sejumlah posisi kuat Rusia, tetapi tentara
Rusia tetap bersikap pasif dan tidak melakukan serangan balasan. Di laut,
perang ini sama brutalnya. Setelah penyerangan pada 8 Februari terhadap Port
Arthur, pasukan Jepang berusaha mencegah pasukan Rusia menggunakan pelabuhan
itu.Perang ini menandai bangkitnya kekuatan Asia menandingi kekuatan Barat yang
berkuasa di Tiongkok saat itu.
Kemenangan ini membuat kekuatan Barat harus memperhitungkan Jepang dalam
urusan politik di Asia. Selain itu, kemenangan ini memicu kebangkitan nasional
di negara-negara Asia lainnya yang sedang terjajah oleh negara
Eropa.Pertempuran Laut Port Arthur adalah pertempuran pembuka Perang
Rusia-Jepang. Pertempuran dimulai dengan serangan tiba-tiba pada malam hari
oleh skuadron kapal perusak Jepang yang dikomandani oleh Laksamana Heihachiro
Togo serta wakilnya Laksamana Shigeto, terhadap armada Rusia (dikomandoni Oskar
Victorovich Stark) yang berlabuh di Port Arthur, Manchuria, dan dilanjutkan
dengan suatu pertempuran besar pagi berikutnya. Pertempuran berakhir tanpa
hasil pasti, dan pertempuran-pertempuran kecil di sekitar Port Arthur terus
berlangsung hingga Mei 1904. Perang ini menjatuhkan korban sebanyak 90 orang
dari pihak Jepang dan 150 orang serta 7 kapal rusak.
Pertempuran Tsushima atau Pertempuran Selat Tsushima adalah pertempuran
laut terakhir dan paling menentukan sepanjang Perang Jepang- Rusia (1904±1905).
Pertempuran terjadi di Selat Tsushima pada 27-28 Mei 1905 (14-15 Mei menurut
kalender Julian yang waktu itu digunakan di Rusia) dan merupakan pertempuran
laut terbesar di era kapal tempur Pra-Dreadnought3.Kapal-kapal uap dari Armada
Gabungan Kekaisaran Jepang di bawah komando Laksamana Togo Heihachiro
menghancurkan dua pertiga Armada Baltik Kekaisaran Rusia di bawah komando Laksamana
Zinovy Rozhestvensky. Armada Baltik Rusia yang dikirim dari Eropa bertempur
melawan Armada Gabungan Jepang di perairan Selat Tsushima antara Semenanjung
Korea dan Jepang.Sebelumnya, 10 Agustus 1904, Armada Pasifik Rusia sudah
berantakan dalam Pertempuran Laut Kuning dikalahkan armada Jepang. Armada
Baltik berlayar melewati Laut Utara, dan menyebabkan insiden diplomatik di
Dogger Bank (lepas pantai Inggris) akibat menyerang armada nelayan Britania.
Pelayaran diteruskan melalui Afrika
dan berlabuh di Indocina.Perjalanan begitu panjang dan meletihkan, dan
akibatnya moral awak kapal mulai anjlok. Armada Baltik mulanya diperintahkan
untuk membuka blokade Jepang terhadap Lüshunkou, tapi jauh sebelum Armada
Baltik tiba, wilayah tersebut sudah jatuh ke tangan Jepang. Armada Baltik
sedang berlayar ke pelabuhan Rusia di Vladivostok melewati wilayah perairan
Selat Tsushima ketika ditemukan kapal penjelajah Jepang.Armada Baltik mempunyai
tiga rute yang bisa dilewati untuk sampai di Vladivostok: Selat La Pérouse,
Selat Tsugaru, dan Selat Tsushima. Laksamana Rozhestvensky memilih Selat
Tsushima yang memisahkan Kyushu dan Semenanjung Korea. Selat Tsushima merupakan
rute terdekat menuju Vladivostok. Dua rute lainnya adalah jalan memutar
melewati Samudra Pasifik. Laksamana Togo yang berpangkalan di Busan,
Semenanjung Korea sudah memperkirakan Selat Tsushima bakal dilewati armada
Rusia.Era pertempuran laut modern dimulai ketika kedua belah armada mulai
saling melepaskan tembakan meriam.
Sebelum Pertempuran Tsushima,
kapal-kapal dalam pertempuran laut melepaskan tembakan meriam pada jarak yang
lebih dekat. Laksamana Togo unggul karena armada Rusia tidak bersiap menghadapi
serangan. Sejak perang dimulai, awak kapal perang Jepang sudah terus-menerus
berlatih menembakkan meriam dengan peluru sub-kaliber. Armada Laksamana Togo
memiliki penembak meriam yang lebih unggul dan lebih sering mengenai sasaran.
Selain itu, kualitas amunisi Jepang waktu itu lebih baik dibandingkan amunisi
Rusia. Tembakan meriam kapal-kapal Jepang juga lebih akurat karena memiliki
lebih banyak instrumen pengukur jarak dibandingkan kapal Rusia. Armada Baltik
waktu itu sedang tidak dalam keadaan siap tempur. Selain 4 kapal perang terbaru
kelas Borodino, Armada Baltik terdiri dari kapal model lama dan tidak
terpelihara dengan baik. Pelayaran panjang menyebabkan bagian bawah lambung
kapal kotor karena kurangnya waktu pemeliharaan.
Akibatnya, kecepatan kapal Rusia
menjadi berkurang.Kapal- kapal Laksamana Togo bisa memiliki kecepatan maksimum
16 knot (30 km/jam), sedangkan kapal-kapal Laksamana Rozhestvensky hanya
memiliki kecepatan maksimum 9 knot (17 km/jam). Laksamana Togo memanfaatkan
keunggulan manuver kapal-kapalnya, dan sempat melakukan taktik pertempuran laut
Crossing sebanyak 2 kali. Laksamana Rozhestvensky tewas seketika akibat pecahan
logam di kepala. Dalam sehari pada 27 Mei 1905, armada Rusia kehilangan kapal
tempurKnyaz' Suvorov, Oslyabya, Emperor Alexander III, dan Borodino.Kapal-kapal
Jepang hanya mengalami kerusakan ringan, terutamaKapal tempur Jepang
Mikasa.Menjelang malam, Laksamana Muda Nebogatov mengambil alih komando armada
Rusia. Di malam hari, kapal torpedo dan kapal perusak Jepang mulai memburu
kapal-kapal armada Rusia yang berpencar dalam kelompok-kelompok kecil dan
berusaha malarikan diri ke utara.Kapal tempur Navarin yang memang sudah tua,
tenggelam.Kapal tempur Sisoy Veliki dan dua kapal.
Dalam perang tersebut Rusia mengalami
kekalahan yang amat memalukan. TenggelamnyaKapal tempur Rusia Varyag dan
terbenuhnya komandan Armanda Pasifik Stepan Makarov bersama kapal Petropavlosk
yang dipimpinnya, serta kekalahan skuadron II pasifik di Pulau Tsunima
merupakan pukulan telak bagi prestise kekuatan militer Rusia.Berbagai
kemenangan Jepang atas Rusia diakhiri dengan perjanjian damai di Portsmouth,
Amerika Serikat pada September 1905. Rusia dan Jepang menandatangani perjanjian
Portsmouth yang berisi penyerahan Manchuria, setengah dari pulau Sakhalin, dan
Korea, kepada Jepang yang dimediasi oleh Presiden Amerika Serikat, Theodore
Roosevelt. Dalam perjaniian tersebut, Rusia menyerahkan separuh dari
Sakhalin kepada Jepang setelah perang mereka pada 1905 yang menandai menyatunya
bangsa-bangsa Asia menjadi kekuatan global. Rusia menguasai kembali seluruh
pulau itu pada 1945. Sementara itu, Jepang menerima penguasaan Rusia atas
Sakhalin, pihaknya menuntut dikembalikannya empat pulau kecil di lepas pantai
pulau Jepang utara, Hokkaido.Kemenangan jepang jepang yang gemilang membuka
mata dunia bahwa eropa dan amerika tidak dapat merendahkan kekuatan jepang.(Sayidiman
Suryohadiprojo :32).
Perang Rusia-Jepang memungkinkan Jepang mencapai tahap kedua Revolusi dan
industry berat. Persediaan besi dari Manchuria setelah perang Rusia-Jepang
mempertinggi kemampuan Jepang untuk mencukupi sendiri kebutuhannya akan besi
dan baja, dan dengan pembangunan pabrik dan instalasi lainnya, memungkinkan
industry jepang beralih secara berangsur-angsur kepada pembuatan kapal-kapal
besar, jalan kereta api, lokomotip, dan sebagainya, yang sampai saat itu masih
di impor.(Taro Sakamoto :52)
2.4 jepang dalam perang dunia 1
Kaisar meiji yang menggantikan ayahnya, kaisar komei pada 1867 M , dan
sebagai pemimpin selama 45 tahun masa pemerintahannya mencapai hasil gemilang.
Ia akhirnya meninggal pada 1912 M. Sebagai penggantinya kaisar taisho. Sejak
masa taiso inilah dunia memasuki masa perfolakan yang hebat. Pertama-tama
gerakan revolusier timbul dinegara tetangga jepang yaitu ; cina. Dimana dinasti
manchu digulingkan dan bentuk pemerintah diganti dengan bentuk republik. Perang
dunia 1 (1914-1918) terpusat di eropa,
namun kemudian juga merembet ke asia dan pasifik. Adapun sebab nya yaitu
terjadinya pertentangan antar negara yang dilantarbelakangi oleh keinginana
untuk membalas dendam atas perebutan daerah jajahan dan rasa nasionalisme yang
berlebihan selain itu terjadinya perlombaan persenjataan yang adanya
kecenderungan suatu bangsa yang kuat ingin menguasai bangsa yang lemah atau
bangsa yang kuat ingin lebihkuat dari negara yang lain. Munculnya gerakan
nasionalisme yang pada abad XX M , ditandai munculnya gerakan nasionalisme untuk
membentuk sutu negara nasional melalui ikatan ras, bahasa, tradisi, sejarah,
agama, ataupun kebudayaan, akan tetapi gerakan nasionalisme beberapa dieropa
berlebihan sehingga menglibatkan pertentangan. Dan munculnya persekutuan
politik ataranegara yang didasari oleh kepentingan yang sama namun pada
kenyataan persekutuan politik itu menjadi alat untuk bersaing dan bermusuhan
dengan negara-negara lain.
Perang dunia 1 memberikan kesempatan jepang untuk bergerak secara leluasa
menguasai cina dan samudra pasifik sebab negara-negara barat sedang sibuk
mengurusi kepentingan masing-masing. Dengan ikut sertanya amerika serikat dalam
perang dunia 1 amerika serikat mengumumkan perng kepada jerman pada 6 april
1917 M, perah segera berakhir dengan kemenangan pihak sekutu dalam
kemenangannya yang diakhiri dengan perjanjian perdamaian versailles pada
tanggal 28 januari 1919 M . yang berisi tuntutan agar hak jerman dishantung dan
samudra pasifik diberikan kepadanya. Dengan demikian sampai dengan perang dunia
1 jepang telah berasil menguasai banyak wilayah. Jepang telah muncul menjadi
negara besar (the great power). (leo agung 126-141)
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Restorasi yang terjadi di jepang pada saat itu telah berdampak sangat baik
bagi bangsa jepang sehingga harkat dan martabat bangsa jepang dapat terangkat
kembali. Jepang menjadi negara maju, modern, dan sejajar dengan negara-negara
Barat. Akibatnya timbul imprealisme dari jepang seperti imprealisme dari
bangsa-bangsa barat atau eropa.
Akibat dari majunya jepang akan imprealismenya, terjadi peperangan antara
Cina-Jepang 1 (1 Agustus 1894–17 April 1895) adalah sebuah perang antara Dinasti Qing China dan Meiji Jepang dalam perebutan kendali atas Korea. Selain itu kemenangan jepang dalam
perang Rusia-Jepang yang gemilang membuka mata dunia bahwa eropa dan amerika
tidak dapat merendahkan kekuatan jepang.
Dan terjadinya perang dunia 1 kerena
keinginan jepang untuk membalas dendam atas perebutan daerah kekeuasaan dan
rasa nasionalisme yang berlebihan terhadap negara-negara barat yang sibuk
dengan kepentingan masing-masing sehingga jepang leleuasa menguasi daerah cina
dan samudra pasifik .Dengan demikian sampai dengan perang dunia 1 jepang telah
berasil menguasai banyak wilayah. Jepang telah muncul menjadi negara besar (the
great power).
Daftar pustaka
Agung, Leo. 2012. Sejarah asia timur
1. Yogyakarta : Penerbit ombak
B.peyle, Kenneth, 1988, GenerasiBaruZaman
Meiji, pergolakan mencari identitas Nasional (1885-1895)Jakarta:PT.Gramedia.
http://rohmanf2.wordpress.com/2011/06/24/politik-ekspansi-dan-imperialisme-jepang-1894-1945
Sakamoto, Taro. 1992. Jepang, Dulu
dan Sekarang. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Suryohadripojo, Sayidiman. 1987. Belajar
dari Jepang. Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar