ZAMAN
PERALIHAN
Disusun
oleh
WULAN
KARTIKA SARI
Nomor
Induk Mahasiswa 2014131051
Mata
Kuliah Sejarah Nasional Indonesia
Dosen
Pembimbing M.Idris M.Pd
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
PGRI PALEMBANG
OKTOBER
2015
ZAMAN PERALIHAN
Zaman peralihan adalah Zaman
awal dimana pemikiran-pemikiran Islam masuk ke Nusantara. Zaman peralihan
dimulai pada abad ke 13-19 M, dengan ditandai mundurnya Kerajaan Sriwijaya. Kemunduran
Sriwijaya disebabkan oleh beberapa hal
yaitu dalam bidang perdagangan, Sriwijaya tidak mampu menyediakan barang-barang
dagangannya karena tidak lagi menghasilkan banyak hasil alam, dibidang politik
Kerajaan Sriwijaya membuat peraturan cukai yang lebih berat lagi bagi
kapal-kapal dagang yang singgah di pelabuhan-pelabuhannya. Kemudian pedagang-pedagang
asing yang berlayar ke Cina, yang merupakan Dinasti Ming pada abad ke 14-15 mengalami
banyak rintangan kemudian para pedagang
berpikir untuk menyingkir di pelabuhan-pelabuhan
kekuasaan Sriwijaya, menembus blokadenya dan menuju tempat-tempat yang mereka
ketahui banyak menghasilkan barang-barang dagangan. Selain kemunduran dibidang
perdagangan dan politik Kerajaan Sriwijaya dipercepat oleh usaha-usaha Kerajaan
Singasari dan Majapahit yang mengadakan Ekpedisi Pamelayu pada tahun 1275
sampai 1286 yang dibawah Pimpinan Kertanegara yang merupakan Pengukuhan
terhadap Kerajaan Melayu di Sumatera.
Pengaruh politik Kertanegara
terhadap Kerajaan Melayu itu sebenarnya suatu usaha mengecilkan kekuasaan politik
dan perdagangan Kerajaan Sriwijaya yang
semula menguasai kunci pelayaran dan perdagangan Internasional melalui Selat Malaka.
Lalu daerah-daerah yang dikuasai Sriwijaya memiliki kesempatan
untuk menyatakan dirinya lepas dari kekuasaan Kerajaan Sriwijaya. Sejalan dengan
kelemahan Sriwijaya pedagang-pedagang Muslim, mubalig serta pendakwa Islam
berkesempatan untuk menyebarkan agama Islam. Mereka menjadi pendukung daerah
yang muncul dan menyatakan dirinya sebagai kerajaan bercorak Islam ialah
Samudra Pasai di pesisir Timur Laut Aceh, Kabupaten Lhok Seumawe. Kerajaan Samudra Pasai makin berkembang baik
dibidang politik, perdagangan dan pelayaran. Hubungan dengan Malaka makin ramai
sehingga pada abad ke 14 timbul masyarakat muslim. Perkembangan masyarakat
muslim di Malaka makin lama makin meluas dan akhirnya pada abad ke 15 muncul
sebuah pusat Kerajaan Islam. Kerajaan Samudra Pasai berdiri pada tahun
1270-1275 atau pertengahan abad 13 M. Kerajaan Samudra Pasai dibawah pimpinan
Sultan Malik Al-Shalih. Nama Sultan
Malik Al-Shalih sebagai Sultan pertama
kerajaan Samudra Pasai yang diceritakan dalam Sejarah Malaka dan Hikayat Raja-Raja Pasai, yang sebelumnya hanya
seorang kepala gempong samudra, bernama Merah Silu. Menurut Hikayat Raja-raja
Pasai(ditulis setelah 1350), seorang Syekh Ismail datang dari Mekkah via
Malabar ke pasai, disini ia membuat Merah Silu, penguasa setempat masuk Islam. Merah Silu kemudian mendapat
gelar Malik al-Shalih yang seperti tercatat wafat pada 698/1297. Hikayat Raja- Raja Pasai yang aslinya
ditulis dalam huruf Jawi sesuai dengan perkembangan bahasa Melayu Kuno masa
kerajaan Sriwijaya yang mendapat pembaruaan menjadi bahasa Melayu Klasik di
kerajaan Samudra Pasai. Lalu dalam Hikayat
Patani terdapat cerita tentang
pengislaman raja Patani yang benama Paya Tu Naqpa yang dilakukan oleh seseorang
dari Pasai yang bernama Syaikh Said karena berasil menyembuhkan raja Patani.
Jelas Samudra Pasai mempunyai peranan penting dalam persebaran Islam di Asia
Tenggara. Namun sejak kedatangan Protugis menguasai Malaka pada tahun 1511 M
dan meluaskan kekuasaan, kerajaan Samudra Pasai mulai dikuasai pada tahun 1512
M kemudian Kerajaan Darussalam dibawah pimpinan Sultan Al Mughayat Syah lebih berasil
menguasai Samudra Pasai dibandingkan Protugis. Kerajaan Aceh Darussalam sejak abad ke 16 semakin mengalami
perkembangan berdasarkan sumber-sumber cina maupun hikayat-hikayat bahwa
sebelum kerajaan Islam Aceh Darussalam, telah ada kerajaan kerajaan.
Zaman peralihan ini disusul
dengan penyalinan dan pengubahan kembali karya-karya zaman Hindu-budha dengan
memberi suasana dan nafas Islam. Seperti hikayat Pandawa dan Hikayat Seri Rama di
dalamnya menegaskan tidak baik bagi Melayu yang beragama Islam. Begitu pula
membaca karya-karya yang sejenis dengan itu. Sehingga banyak naskah hikayat
lama ini dimusnakan dan isinya diubah lebih disesuaikan dengan nilai-nilai
Islam, yang bisa dibaca oleh orang-orang Melayu yang beragama Islam, inilah
yang menjadi faktor penyalinan dan pengubahan kembali karya-karya zaman
hindu-budha yang diberi nafas Islam. Zaman
peralihan juga memiliki suluk-suluk yang terkenal di Jawa yang ditulis pada abad
ke 15- 16 M. Seperti suluk Sunang Bonang alias Makhdum Ibrahim adalah seorang wali
sufi di pulau Jawa yang sangat kaya dalam dunia penulisan. dia hidup antara
pertengahan abad 15 sampai abad 16. Yang bersamaan mundurnya kerajaan Hindu
besar Majapahit dan berdirinya kerajaan Demak kerajaan Islam pertama di Jawa. Dia
pernah belajar di Malaka dan Pasai yang kemudian karya-karyanya benar-benar
mencerminkan zaman peralihan Hindu ke Islaman yang berkembang di Nusantara.
Suluk Sunang Bonang antara lain Suluk Khalifah.
Dan bukti lainnya adalah Berakhirnya Majapahit karena dalam segi perdagangan,
kerajaan Majapahit hanya memikirkan keuntungan saja sedangkan dalam bidang
politik munculnya Demak yang melakukan Pemberontakan serta perang perebutan
kekuasaan dikalangan keluarga raja-raja. Selain itu dengan jelas kerajaan Majapahit
runtuh bukan semata-mata oleh orang-orang muslim. Melainkan kerajaan Majapahit
tidak berpusat pada Trowulan yaitu sebuah kecamatan di kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Lalu tumbuhnya
Kerajaan Demak di Jawa, penguasa Demak yakni Pete Rodim dan kakeknya berasal
dari Gresik. Yang menjadi menarik daerah Kerajaan Demak ini masih bercorak
Hindu padahal Kerajaan Demak itu adalah Kerajaan Islam. Kerajaan Demak adalah
pusatnya para dakwah dan para wali termasuk Wali Sanga yaitu Sunan Ampel, Sunang
Kudus, Sunan Gunung Jati, Sunan Darajad, Sunan Muria, Sunan Bonang, Sunan
Kalijaga, Sunan Giri, dan Syekh Lemah Abang. Masuknya penyebaran Islam di Demak
dikuatkan dengan adanya hikayat
Hasanuddin. Menurut hikayat Hasanudin
yang pernah menjadi imam Masjid Agung adalah Pangeran Bonang dan Sunan
Gunungjati.
Zaman peralihan juga
merupakan proses asimilasi budaya lokal yang berkembang dengan derasnya
sehingga sejalan dengan terjadi dengan proses pribumisasi kebudayaan Islam.
kebudayaan Islam tidak asing bagi masyarakat Nusantara yang berbondong-bondong
memeluk agama Islam. Seperti dalam bidang seni yang terkenal adalah pertujukan
wayang. Menurut cerita, Sunan Kalijaga adalah tokoh yang paling mahir dalam
mementaskan wayang. Sunan Kalijaga tidak pernah meminta upah pertunjukan,
tetapi ia meminta agar penonton mengikutinya mengucapkan kalimat Syahadat. Yang
sebagaian cerita wayang masih dipetik dari Mahabrata dan Ramayana, tetapi
sedikit nama tokoh-tokohnya adalah pahlawan Islam. Nama panah Kalimasada, sesuatu yang paling ampuh,
dalam lakon wayang yang dihubungkan dengan kalimat Syahadat, ucapan yang berisi
pengakuan kepada Allah dan Nabi Muhammad. Kalimat Syahadat yang merupakan tiang pertama
dari lima rukun Islam. Asimilasi melalui seni sastra juga dilakukan sedikit
demi sedikit seperti terbukti dalam bahasa dan huruf daerah, misalnya
primbon-primbon abad 16 yang antara lain disusun oleh Sunan Bonang. Kemudian proses pribumisasi kebudayaan Islam dilakukan dengan mengubah
kembali Hikayat-hikayat Islam dalam bentuk masing-masing nusantara yang
kebanyakan dalam bahasa Melayu. Seperti hikayat
Nabi contohnya Nabi Sulaiman a.s dimunculkan sebagai tokoh bayangan dari
kisah binatang (fabel) begitu juga dengan kisah dari riwayat kehidupan Nabi Muhammad,
contohnya Hikayat Putri Salamah yang isinya Nabi mengajarkan
bagaimana tugas seorang istri dalam Islam. Tugas seorang istri dalam Islam
harus patuh sama suaminya tidak boleh membakang ataupun melawan. Sehingga berkembanglah
Islam di nusantara dengan pesat seperti banyak Ulama-ulama yang datang ke Nusantara
dengan adanya sebuah hikayat-hikayat pada masa itu seperti hikayat berbahasa
melayu, hikayat Hindu-budha Keislaman maupun hikayat dalam kerajaan Islam pada
masanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar