Kamis, 17 Desember 2015

zaman peralihan




ZAMAN PERALIHAN


Disusun oleh

WULAN KARTIKA SARI
Nomor Induk Mahasiswa 2014131051
Mata Kuliah Sejarah Nasional Indonesia
Dosen Pembimbing M.Idris M.Pd















FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PGRI PALEMBANG
OKTOBER
2015
 

ZAMAN PERALIHAN

Zaman peralihan adalah Zaman awal dimana pemikiran-pemikiran Islam masuk ke Nusantara. Zaman peralihan dimulai pada abad ke 13-19 M, dengan ditandai mundurnya Kerajaan Sriwijaya. Kemunduran Sriwijaya disebabkan oleh  beberapa hal yaitu dalam bidang perdagangan, Sriwijaya tidak mampu menyediakan barang-barang dagangannya karena tidak lagi menghasilkan banyak hasil alam, dibidang politik Kerajaan Sriwijaya membuat peraturan cukai yang lebih berat lagi bagi kapal-kapal dagang yang singgah di pelabuhan-pelabuhannya. Kemudian pedagang-pedagang asing yang berlayar ke Cina, yang  merupakan Dinasti Ming pada abad ke 14-15 mengalami banyak rintangan  kemudian para pedagang berpikir  untuk menyingkir di pelabuhan-pelabuhan kekuasaan Sriwijaya, menembus blokadenya dan menuju tempat-tempat yang mereka ketahui banyak menghasilkan barang-barang dagangan. Selain kemunduran dibidang perdagangan dan politik Kerajaan Sriwijaya dipercepat oleh usaha-usaha Kerajaan Singasari dan Majapahit yang mengadakan Ekpedisi Pamelayu pada tahun 1275 sampai 1286 yang dibawah Pimpinan Kertanegara yang merupakan Pengukuhan terhadap Kerajaan Melayu di Sumatera.
Pengaruh politik Kertanegara terhadap Kerajaan Melayu itu sebenarnya suatu usaha mengecilkan kekuasaan politik dan perdagangan Kerajaan  Sriwijaya yang semula menguasai kunci pelayaran dan perdagangan Internasional melalui Selat Malaka. Lalu  daerah-daerah  yang dikuasai Sriwijaya memiliki kesempatan untuk menyatakan dirinya lepas dari kekuasaan Kerajaan Sriwijaya. Sejalan dengan kelemahan Sriwijaya pedagang-pedagang Muslim, mubalig serta pendakwa Islam berkesempatan untuk menyebarkan agama Islam. Mereka menjadi pendukung daerah yang muncul dan menyatakan dirinya sebagai kerajaan bercorak Islam ialah Samudra Pasai di pesisir Timur Laut Aceh, Kabupaten Lhok Seumawe.  Kerajaan Samudra Pasai makin berkembang baik dibidang politik, perdagangan dan pelayaran. Hubungan dengan Malaka makin ramai sehingga pada abad ke 14 timbul masyarakat muslim. Perkembangan masyarakat muslim di Malaka makin lama makin meluas dan akhirnya pada abad ke 15 muncul sebuah pusat Kerajaan Islam. Kerajaan Samudra Pasai berdiri pada tahun 1270-1275 atau pertengahan abad 13 M. Kerajaan Samudra Pasai dibawah pimpinan Sultan Malik Al-Shalih. Nama  Sultan Malik Al-Shalih sebagai  Sultan pertama kerajaan Samudra Pasai yang diceritakan dalam Sejarah Malaka dan Hikayat Raja-Raja Pasai, yang sebelumnya hanya seorang kepala gempong samudra, bernama Merah Silu. Menurut Hikayat Raja-raja Pasai(ditulis setelah 1350), seorang Syekh Ismail datang dari Mekkah via Malabar ke pasai, disini ia membuat Merah Silu, penguasa setempat  masuk Islam. Merah Silu kemudian mendapat gelar Malik al-Shalih yang seperti tercatat wafat pada 698/1297. Hikayat Raja- Raja Pasai yang aslinya ditulis dalam huruf Jawi sesuai dengan perkembangan bahasa Melayu Kuno masa kerajaan Sriwijaya yang mendapat pembaruaan menjadi bahasa Melayu Klasik di kerajaan Samudra Pasai. Lalu dalam Hikayat Patani  terdapat cerita tentang pengislaman raja Patani yang benama Paya Tu Naqpa yang dilakukan oleh seseorang dari Pasai yang bernama Syaikh Said karena berasil menyembuhkan raja Patani. Jelas Samudra Pasai mempunyai peranan penting dalam persebaran Islam di Asia Tenggara. Namun sejak kedatangan Protugis menguasai Malaka pada tahun 1511 M dan meluaskan kekuasaan, kerajaan Samudra Pasai mulai dikuasai pada tahun 1512 M kemudian Kerajaan Darussalam dibawah pimpinan Sultan Al Mughayat Syah lebih berasil menguasai Samudra Pasai dibandingkan Protugis. Kerajaan Aceh Darussalam  sejak abad ke 16 semakin mengalami perkembangan berdasarkan sumber-sumber cina maupun hikayat-hikayat bahwa sebelum kerajaan Islam Aceh Darussalam, telah ada kerajaan kerajaan.
Zaman peralihan ini disusul dengan penyalinan dan pengubahan kembali karya-karya zaman Hindu-budha dengan memberi suasana dan nafas Islam. Seperti hikayat Pandawa dan Hikayat Seri Rama di dalamnya menegaskan tidak baik bagi Melayu yang beragama Islam. Begitu pula membaca karya-karya yang sejenis dengan itu. Sehingga banyak naskah hikayat lama ini dimusnakan dan isinya diubah lebih disesuaikan dengan nilai-nilai Islam, yang bisa dibaca oleh orang-orang Melayu yang beragama Islam, inilah yang menjadi faktor penyalinan dan pengubahan kembali karya-karya zaman hindu-budha yang diberi nafas Islam.  Zaman peralihan juga memiliki suluk-suluk yang terkenal di Jawa yang ditulis pada abad ke 15- 16 M. Seperti suluk Sunang Bonang alias Makhdum Ibrahim adalah seorang wali sufi di pulau Jawa yang sangat kaya dalam dunia penulisan. dia hidup antara pertengahan abad 15 sampai abad 16. Yang bersamaan mundurnya kerajaan Hindu besar Majapahit dan berdirinya kerajaan Demak kerajaan Islam pertama di Jawa. Dia pernah belajar di Malaka dan Pasai yang kemudian karya-karyanya benar-benar mencerminkan zaman peralihan Hindu ke Islaman yang berkembang di Nusantara. Suluk Sunang Bonang antara lain Suluk Khalifah. Dan bukti lainnya adalah Berakhirnya Majapahit karena dalam segi perdagangan, kerajaan Majapahit hanya memikirkan keuntungan saja sedangkan dalam bidang politik munculnya Demak yang melakukan Pemberontakan serta perang perebutan kekuasaan dikalangan keluarga raja-raja. Selain itu dengan jelas kerajaan Majapahit runtuh bukan semata-mata oleh orang-orang muslim. Melainkan kerajaan Majapahit tidak berpusat pada Trowulan yaitu sebuah kecamatan  di kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Lalu tumbuhnya Kerajaan Demak di Jawa, penguasa Demak yakni Pete Rodim dan kakeknya berasal dari Gresik. Yang menjadi menarik daerah Kerajaan Demak ini masih bercorak Hindu padahal Kerajaan Demak itu adalah Kerajaan Islam. Kerajaan Demak adalah pusatnya para dakwah dan para wali termasuk Wali Sanga yaitu Sunan Ampel, Sunang Kudus, Sunan Gunung Jati, Sunan Darajad, Sunan Muria, Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Giri, dan Syekh Lemah Abang. Masuknya penyebaran Islam di Demak dikuatkan dengan adanya hikayat Hasanuddin. Menurut hikayat Hasanudin yang pernah menjadi imam Masjid Agung adalah Pangeran Bonang dan Sunan Gunungjati.
Zaman peralihan juga merupakan proses asimilasi budaya lokal yang berkembang dengan derasnya sehingga sejalan dengan terjadi dengan proses pribumisasi kebudayaan Islam. kebudayaan Islam tidak asing bagi masyarakat Nusantara yang berbondong-bondong memeluk agama Islam. Seperti dalam bidang seni yang terkenal adalah pertujukan wayang. Menurut cerita, Sunan Kalijaga adalah tokoh yang paling mahir dalam mementaskan wayang. Sunan Kalijaga tidak pernah meminta upah pertunjukan, tetapi ia meminta agar penonton mengikutinya mengucapkan kalimat Syahadat. Yang sebagaian cerita wayang masih dipetik dari Mahabrata dan Ramayana, tetapi sedikit nama tokoh-tokohnya adalah pahlawan Islam. Nama panah Kalimasada, sesuatu yang paling ampuh, dalam lakon wayang yang dihubungkan dengan kalimat Syahadat, ucapan yang berisi pengakuan kepada Allah dan Nabi Muhammad.  Kalimat Syahadat yang merupakan tiang pertama dari lima rukun Islam. Asimilasi melalui seni sastra juga dilakukan sedikit demi sedikit seperti terbukti dalam bahasa dan huruf daerah, misalnya primbon-primbon abad 16 yang antara lain disusun oleh Sunan Bonang.  Kemudian proses pribumisasi  kebudayaan Islam dilakukan dengan mengubah kembali Hikayat-hikayat Islam dalam bentuk masing-masing nusantara yang kebanyakan dalam bahasa Melayu. Seperti hikayat Nabi contohnya Nabi Sulaiman a.s dimunculkan sebagai tokoh bayangan dari kisah binatang (fabel) begitu juga dengan kisah dari riwayat kehidupan Nabi Muhammad, contohnya Hikayat Putri Salamah yang isinya Nabi mengajarkan bagaimana tugas seorang istri dalam Islam. Tugas seorang istri dalam Islam harus patuh sama suaminya tidak boleh membakang ataupun melawan. Sehingga berkembanglah Islam di nusantara dengan pesat seperti banyak Ulama-ulama yang datang ke Nusantara dengan adanya sebuah hikayat-hikayat pada masa itu seperti hikayat berbahasa melayu, hikayat Hindu-budha Keislaman maupun hikayat dalam kerajaan Islam pada masanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar