ANALISIS JARINGAN ULAMA
Disusun
oleh
WULAN
KARTIKA SARI
Nomor
Induk Mahasiswa 2014131051
Mata
Kuliah Sejarah Nasional Indonesia
Dosen
Pembimbing M.Idris M.Pd
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
PGRI PALEMBANG
OKTOBER
2015
Kedatangan Islam di Nusantara
tidak lepas dari pengaruh hubungan dengan Timur Tengah.Perkembangan Islam di
Nusantara dengan perkembangan islam di Timur Tengah berjalan dalam kurun waktu
yang sangat panjang hingga akhir abad ke 18. Awal kedatangan Islam dan hubungan
Nusantara dengan Timur Tengah hanya dalam
hubungan Ekonomi dan Perdagangan, kemudian hubungan politik-keagamaan selanjutnya
hubungan intelektual keagamaan.
A.
TEORI-TEORI KEDATANGAN ISLAM
Kedatangan Islam di Nusantara
mengalami perdebatan yang sangat panjang, dari dimulai tempat asal kedatangan Islam,
para pembawanya, dan waktu kedatangannya. Asal kedatangan Islam itu dari
berbagai negara yakni dari Anak Benua India, Persia, Arabia, Pijnappel,
Gujarat, Malabar, Muslim Deccan, Begal, Coromandel, Indonesia-Melayu maupun
dari kerajaan Hindu-Budha Zabaj (Sriwijaya). Dibuktikan dengan kedatangan
orang-orang Arab bermazhab Syafi’i yang bermigrasi dan menetap di wilayah India
dan kemudian membawa Islam di Nusantara, kemudian berkembang di beberapa kota
pelabuhan Anak Benua, Muslim Deccan yang tinggal disana dan berdagang dengan perdagang Timur Tengah dengan Nusantara kedunia Melayu-Indonesia yang
menganggap sebagai penyebar Islam pertama. Baru kemudian disusul dengan
orang-orang Arab yang kebanyakan keturunan Nabi Muhammad SAW kerena menggunakan
gelar Sayid dan Syarif. Orang-orang ini
menyebarkannya sebagai pendeta maupun penguasa. Lalu diketahui awal permulaan penyebaran
Islam di Nusantara pada abad ke 12, yang mengungkapkan tempat asal Islam di
Nusantara di Gujarat berdasarkan kesimpulan yang mengamati batu nisan di Pasai, Sumatera. Khususnya pada tanggal 17
Zulhijah 831 h/ 27 September 1428. Batu nisa itu mirip dengan batu nisan yang
ditemukan di makam Mawlana Malik Ibrahim (822/ 1419) di Gresik, Jawa Timur yang
sama dengan batu nisan yang tedapat di Cambay, Gujarat. Dan pendapat lain
menyatakan bahwa batu nisan yang di temukan di Gujarah jauh berbeda dibandingkan
dengan batu nisan yang ditemukan di Begal yaitu batu nisan Siti Fatimah pada
tahun (475/1082) yang ditemukan di Leran, Jawa Timur. lalu penemuan batu nisan
yang mirif bentuk dan gayanya di Bruas, pusat kerajaan kuno Melayu di Perak,
Semenanjung Malaya. Yang dikirimkan lansung oleh orang-orang Gujarat.
Orang-orang Gujarat ini memiliki kelemahan bahwa Teori lain juga mengungkapkan
bahwa penyebaran muslim terdapat di Pantai Coromandel kerena banyak orang
muslim Nusantara (Mazhab Syafi’i). Dan mereka memiliki peranan penting dibidang
perdagangan antara India dan Nusantara. Selain itu juga Arabia juga menyebarkan
dalam bidang perdagangan ke Barat-Timur
pada abad ke 7 dan 8 M dengan bukti yang kuat bahwa pedagang Arab menjadi
pemimpin pemungkiman Arab muslim di Pesisir Pantai Sumatera. Dan melakukan
pernikahan dengan wanita lokal sehingga membentuk sebuah komunitas muslim yang
terdiri orang-orang Arab dengan penduduk lokal lalu komunitas tersebut
menyebarkan agama Islam. Dalam pertemuan diselenggarakan pada 1969 dan 1978
tentang kedatangan Islam datang ke Indonesia yang menyimpulkan bahwa Islam
datang lansung dari Arabia tidak dari India tidak pula pada abad ke 12 atau 13
melainkan dalam abad pertama atau abad ke 7 masehi. Adanya karateristik internal Islam didunia
Melayu Indonesia yang diceritakan oleh Histrografi lokal yang bercampur dengan
mitos dan legenda seperti Hikayat Raja-Raja Pasai seorang Syekh Ismail datang
dengan kapal dari Mekah Via Malabar ke Pasai yang membuat Merah Silu penguasa
setempat masuk Islam yang mengubah namanya menjadi Malik Al Shalih. Seabad
kemudian Sejarah Melayu penguasa Malaka yang diislamkan oleh orang Arab dari
Jeddah yang bernama Parameswara yang diberi nama Sultan Muhammad Syah. lalu
adanya anggapan bahwa para penyebar pertama Islam di Jawa adalah Mawlana Malik
Ibrahim. ia mengislamkan kebanyakan wilayah Pesisir Pantai Utara Jawa dan
membujuk raja Hindu-Budha Majapahit, Vikramavarddhana agar masuk Islam. Lalu dengan
kedatangan Raden Ahmat, putra seorang Da’i Arab di Campa, Islam memperoleh
keluasan di Istana Majapahit. Yang digambarkan memiliki peranan penting dalam Islamisasi
di Pulau Jawa kerena dipandang sebagai pemimpin Wali Sanga dengan gelar Sunan Ampel.
Yang mengisahkan bahwa Sunan Ampel telah mendirikan sebuah pusat Keilmuan Islam.Dengan
mempertimbangkan riwayat-riwayat diatas kita bisa mengambil empat tema pokok.
Pertama, Islam dibawa lansung dari Arabia; kedua, Islam diperkenalkan oleh para
guru dan penyair profesional yakni mereka yang memang khusus bermaksud menyebarkan Islam; ketiga,
yang mula-mula masuk Islam adalah para penguasa; dan keempat, kebayakan para
penyebar Islam profesional ini datang ke Nusantara pada abad ke 12 dan 13. Dibuktikan
bahwa sebagaimana yang dikemukan Arnold dan banyak dipegang sarjana
Indonesia-Malaysia yang adanya proses Islamisasi antara abad ke 12 padahal pada
abad ke 7 sudah berada ke Nusantara tetapi mereka hanya bertemu dan
berinteraksi tetapi tidak ada bukti terjadinya Asimisasi di Nusantara.Para penyebar
pertama Islam di Nusantara adalah para perdagang dan sebagaian pedagang ini
melakukan perkawinan dengan bangsawa lokal lalu keturunan-keturunan meraka pada
akhirnya ikut juga menyebarkan Islam. Para pedagang ini berfungsi sebagai
penyebar Islam yang bertindak sebagai penyair Islam.
B.
HUBUNGANAN AWAL MUSLIM NUSANTARA DENGAN TIMUR
TENGAH
Hubungan awal muslim Nusantara dengan Timur Tengah
berjalan dalam kurun waktu yang sangat panjang, hubungan awal dari hubungan
Nusantara dengan Timur Tengan adanya perdagangan yang dimulai dari Masa
Phunisia, Saba dan masa Pra-Islam dari Arab dan Persia dengan Dinasti Cina yang
mengadakan pertukaran keagaman, sosial, politik, dan kebudayaan.
1.
Hubungan Timur Tengah, Cina dan Nusantara
Hubungan
Timur Tengah dengan Nusantara dibuktikan adanya sumber-sumber dari Cina dan Arab.
Kedatangan muslim di Timur Tengah kebanyakan adalah orang Arab dengan adanya
seseorang agamawan dan pengembara yang terkenal Cina yakni I-Tsing dicatatanya
menjelaskan bahwa di Palembang ibu kota Kerajaan Buddha Sriwijaya dan I-Tsing
juga pernah menumpang dengan Arab dari Canton ke pelabuhan muara Sungai Bhoga
yang sekarang disebut dengan Musi ini ada dalam sumber-sumber Arab. Kerajaan Seriwijaya
memiliki peranan penting bagi perdagangan di Timur Tengah bahkan mendominasi
pelayaran Nusantara. Dalam sumber-sumber Cina Kerajaan Sriwijaya merupakan
pusat dari agama Buddha di Nusantara. Banyak penuntut ilmu dan penziarah Budhha
bermungkim di Nusantara selama bertahun-tahun untuk mempelajari dan memperjemah
teks-teks keagamaan yang ada dalam catatan I-Tsing juga. Dalam sumber-sumber
Cina sudah jelas bahwa banyak muslim di sriwijaya yang menjadi pedagang,
pemilik kapal maupun duta.
2.
Benua Ruhum dan Nusantara
Kebangkitan
kerajaan Muslim di Nusantara pada abad ke 13 terjadinya hubungan politik, agama antara Timur Tengah
dengan Nusantara. Dijelaskan dalam catatan Melayu Indonesia adanya para penyiar
agama Islam, khususnya Arab yang menyebarkan Islam kepada penduduk pribumi Nusantara.
Jika masa sebelumnya muslim Arab memusatkan kegiatan-kegiatan mereka pada perdagangan
tetapi pada abad ke 12 mulai memberi perhatiaan pada usaha-usaha penyebaran
Islam di Nusantara. Karena disebabkan perubahan-perubahan politik agama di
Timur Tengah itu sendiri lalu adanya kemerosotan perdagangan di Nusantara sebagai
akibat dari kemunduran Sriwijaya. Selain disebabkan oleh faktor-faktor internal
juga adanya kerajaan-kerajaan baru di Jawa seperti Kerajaan Kediri. Selepas
dari faktor-faktor penyebabnya, dampak kemunduran Sriwijaya terhadap
perdagangan di Nusantara sangat besar. Dalam upaya menungkatkan kembali
pendapatan negara yang terus merosot. Para penguasa Sriwijaya menempuh
kebijakan ekonomi dan perdagangan yang Monopolistik, mengenakan bea yang besar
terhadap kapal-kapal asing. Dan memaksa para perdagang asing membanyar denda
yang berat jika mereka berusaha berdagang di pelabuhan-pelabuhan lain di Nusantara.
Yang akibatnya para pedaagang asing khususnya pedagang-pedagang muslim Arab
kesulitan. Lalu dengan kecerdikan pedagang-pedagang muslim dia mengalihkan
kegiatan-kegiatan dagang ke tempat lain. Selain itu mereka lebih aktif dalam
menyebarkan islam. Yang akhirnya adanya hubungan akrab dengan Timur Tengah dan
Nunsantara. Hubungan dipererat dengan tali agama tetapi juga tetep berjalan
hubungan perdagangan. Lalu lama kelamaan tumbuhnya hubungan religi-kultural dan
di perkuat lagi dengan bidang politik. Dalam bidang politik adanya kekuasaan
besar di Timur Tengah yakni para penguasa Benua Runum pada Dinasti Utsmani. Dinasti
Utsmani bangkit sebagai negara yang paling kuat di Timur Tengah dan menjadi
negara muslim terkuat di Timur Tengah. Hubungan politik dan diplomatik antara
Aceh dan Dinasti Utsmani dibankitkan lagi oleh Sultan Iskandar Muda yang
bertujuan untuk meningkatkan persabatan antara kedua negara.
3.
Mekkah dan Madinah dengan Nusantara
Hubungan Nusantara
dengan Timur Tengah tidak terbatas pada Dinasti Utsmani. Misalnya Aceh juga
menjalin hubungan dengan Mekkah dan Madinah meski hubungan ini lebih bersifat
keagamaan dibandingkan politik. Aceh ini dianggap menjadi penguasa Haramayn
yang memiliki hubungan politik yang sangat penting. Seperti yang ada dalam
sepucuk surat dari Sultan Johor kepada Sultan Aceh (Pires) yang mendapatkan
kehormatan besar di Mekkah. Sultan Aceh ini juga dianggap sebagai Sufi yang
baik dan beriman yang dihormati lebih besar dari Nabi Muhammad SAW.selain itu
penguasa dari Banten mendapat gelar Sultan dari Syarif dari Mekkah dan di
berikan sebuah bendera dan pakaian suci yang dipercayai sebagai bekas sajak
kaki Nabi dari penguasa Haramayn. Dan Mataram merupakan kerajaan Muslim terbesar
di Jawa juga menjalin hubungan erat dengan Syarif Mekkah dan mendapatkan juga
gelar Sultan dari penguasa Tanah Suci. Disamping penguasa-penguasa Aceh,
Banten, dan Mataram beberapa muslim Nusantara juga menerima surat-surat dari
Syarif Mekkah seperti Sultan Palembang. Hubungan ini sangan erat ketika penguasa Haramayn mengenal baik Nusantara.
Seperti yang terlihat orang-orang dari Aceh memberi hadiah kepada para penguasa
Haramayn.dan penguasa Haramayn juga memberi dukungan kepada para penguasa
muslim di Nusantara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar